Wednesday, October 18, 2017

we were never fall in love.


I'M BACK!

Gue sekarang anak mahasiswa tingkat akhir, udah semester 7 coy. Doain lah ya biar gue lulus tepat waktu. (AMIN, YA TUHAN!). Well, jadi sebelum kalian nanya kenapa ini blog udah nggak pernah aktif lagi, gue udah kasih tau jawabannya.
Oh iya, sebenernya gue harusnya nggak ngepost dulu hari ini, soalnya besok gue ujian, meeen! Gue masih ada UTS besok. Gila ya gue HAHAHAHA

Tapi, gue jenuh sih belajar terus, ditambah lagi beberapa hari ini nyaris kebanyakan temen gue selalu mengatakan hal yang sama, seperti "Terserah lo deh ya, Vir. Capek kasih taunya" atau "Kayak nggak ada cowok lain aja deh", ketika mereka tau gue jalan atau misa bareng sama Toper.

Gue nggak bisa salahin mereka juga sih, secara Toper sama gue kan pernah jadian terus putus (iyalah ya) eh sekarang gue masih sering banget jalan sama dia. Cuma ya gimana? Menurut gue nggak ada yang salah dengan temenan sama mantan. Lebih lanjut adalah, karena gue emang udah nggak ada rasa. Ralat! Karena kami emang udah nggak ada rasa satu sama lain.

Ini, serius. Kalau gue masih ada rasa sama dia, gue malah nggak akan berani deket-deket sama dia. Karena rasanya pasti sakit kan?

Dan hal ini juga berlaku ke Toper. Gue pernah -sering malah- ngobrol sambil menatap matanya ((asli ini geli banget nulisnya)), dan ya gue nggak pernah nemuin tatapan yang sama kayak yang dulu dia perlihatkan ke gue.

Jadi, kami berdua emang udah nggak ada rasa lagi satu sama lain. Rasa gugup itu, debaran jantung itu, semua kupu-kupu yang terbang dan lumba-lumba yang berlompatan di perut itu udah nggak ada lagi.

Well, temen gue pernah nanya sih. "Kok bisa lo biasa aja sama orang yang pernah ngebuat lo tersesat di matanya?"

Mungkin, jawabannya adalah karena sebenarnya kita nggak pernah (benar-benar) jatuh cinta satu sama lain. Mungkin, gue dan dia sama-sama terjebak ilusi yang ngebuat kami percaya kalau kami jatuh cinta, padahal kenyataannya nggak. Mungkin, gue menganggap kalau hati gue yang berdebar saat itu adalah tanda jatuh cinta. Whereas the fluttering heart doesnt always mean you are in love.
My sister ever said this to me. "Maybe you just love the idea of being with him?"
Dan mungkin iya, kami berdua memang nggak pernah jatuh cinta satu sama lain. Kami hanya terjebak ilusi yang membuat kami beranggapan kalau kami jatuh cinta. Atau mungkin, kami hanya jatuh cinta pada ide tentang "kita"

P.S: Gue nggak lagi galau. Jadi tolong buat Acha, Sofie, Chelsea, Dhie dan yang lainnya stop ya marah-marah kalau tau gue jalan sama Toper. Because no, we will never ever ever ever getting back together. Ah, jadi pengen nyanyi lagunya mbak Taylor Swift.

Tuesday, October 3, 2017

Papa

Pagi ini, gue bangun dengan suasana hati yang kacau. Entah kenapa, gue mendadak kangen Papa. Well, Papa gue nggak gimana-gimana sih. Papa gue bukan orang super jenius atau orang super ganteng atau orang super kaya.

Papa adalah sosok yang bisa-bisanya bilang "siapa yg berani-berani gangguin Mbak Vira. Nanti biar Papa pukul dia" saat ngebunuh kecoa yang buat gue ketakutan ketika gue masih 3 tahun. Ini serius, waktu itu gue inget banget, gue lagi ketakutan sampai jerit-jerit, dan dia nangkep kecoa sambil bilang gitu. Simple sih, lucu malah, cuma darisana gue sadar kalau Papa nggak akan biarin siapapun ngegangguin gue atau bahkan nyakitin gue. Papa bakal pasang badan jadi tameng gue agar gue aman.

Papa adalah sosok yang bilang "yaudah nggak usah nikah, disini aja sama papa mama" hanya karena dia nggak suka ide tentang gue menikah dengan orang lain dan pergi meninggalkan dia. Waktu itu gue iseng, gue nanya ke Mama, 'seandainya gue nggak nikah gimana?', Mama gue nasihatin gue untuk nggak usah ngomong macem-macem, sementara Papa gue tau-tau ngomong gitu. Bahkan, setiap gue ngenalin temen cowok gue ke Papa, Beliau bakalan pasang muka super jutek dan super judes. He really loves me that much.

Papa adalah sosok yang nyuruh Mama nelponin gue nyaris setiap jam setelah gue melangkahkan kaki gue keluar rumah untuk jalan-jalan, "udah sampai belum?" "udah makan belum?" "nonton apa jadinya?" "udah selesai nonton belum?" "bilangin jangan lupa makan" "kapan pulang? naik apa?" "udah di jalan?" "mau dijemput nggak?" sampai Mama kesel dan berniat pasang alat pelacak di badan gue. Kadang kesel juga sih, lagi jalan kok digangguin, tapi sekarang ini gue sadar, gue kangen dikhawatirin sampai segitunya. Gue sadar kalau ternyata gue sepenting itu di hidup Papa.

Papa adalah sosok yang susah banget diajak foto tapi selalu minta foto anak-anaknya nyaris dimanapun dan kapanpun "Coba foto. Papa mau liat", katanya. Padahal muka gue nggak akan berubah dalam waktu tujuh hari. Karena ini juga, gue jadi punya kebiasaan kirim foto selfie ke Mama, karena Papa nggak punya handphone.

Papa adalah sosok yang bilang "kamu nggak perlu jadi perfect, kamu cuma perlu jadi anak Papa". Again, he really loves me that much. Nggak peduli gue segemuk apa, sekurus apa, sejelek apa, secantik apa, sebodoh apa, sepinter apa. Di mata Papa, gue tetep anaknya. Dan dia nggak minta gue untuk jadi orang lain. Cukup jadi anaknya.

Papa adalah sosok yang menjadi jawaban atas pertanyaan "Siapa laki-laki yang menjadi cinta pertama kamu?". Saat kecil, gue selalu menjadikan Papa sebagai patokan "tipe ideal cowok". Oke, gue akuin sekarang ada beberapa sifat Papa yang nggak gue suka, tapi ini nggak merubah fakta kalau saat kecil, gue mau cari pacar yang kayak Papa. Yang bisa ngelindungin gue, yang bisa ngehibur gue, yang bisa meluk gue disaat gue takut atau sedih, yang bisa negur gue kalau salah, yang bisa membimbing gue, yang nerima gue apa-adanya, yang ngebuat gue ngerasa kalau keadaan gue bukan merupakan kesalahan.

He did that. No, he still does. Mungkin, sekarang, karena gue juga udah tumbuh jadi cewek berkepala batu dan berego tinggi serta bertempramen buruk, ditambah gue sering berantem dan berdebat sama Papa, sosok Papa jadi nggak seflawless dulu. Tapi, gue yakin di mata Papa, keberadaan gue bukan kesalahan. I'm still his little princess, still his pride, still his everything.

Dan ya, gue lagi kangen sama Papa.

Tuesday, March 21, 2017

Dear Future Husband.

Dear my future husband,

Aku ini perempuan yang egois, keras kepala, dan cengeng. Jika kamu memilihku, maka aku adalah perempuan paling beruntung di dunia. Because finally there's someone that stupid enough to love me.

Jangan paksa aku untuk mengikuti aturanmu, karena aku yang keras kepala ini akan merasa hidupku terpenjara olehmu. Semakin kamu memaksa aku untuk mengikuti aturanmu, semakin aku merasa terkekang, maka aku akan semakin membangkang. Percayalah, jiwa memberontak ku ini sudah tumbuh ketika aku masih ada dalam rahim ibuku.
Gunakan kelemahan ku untuk mengaturku. Meski kadang aku grasak-grusuk dan rempong setengah mati, aku adalah orang yang amat realistis. Aku akan lebih menyukai ketika kamu memberikan alasan, bukannya larangan. Percayalah, kalau kamu berhasil menggunakan kelemahan ku yang satu itu, aku bukan hanya akan patuh padamu, aku akan menghormatimu dengan sepenuh hatiku.

Aku tidak janji akan pandai memasak (meski aku cukup jago dalam mengulek sambel dan menggoreng telor), karena percayalah, lidahku bahkan tidak bisa membedakan makanan yang enak dan tidak. Bagiku, hanya ada makanan yang enak dan enak banget. Tapi jangan khawatir, aku cukup jago dalam membersihkan rumah, mencuci peralatan makan. Untuk urusan mencuci baju, kita bisa pakai mesin cuci, jadi aku tidak akan bilang aku jago mencuci baju.

Aku juga tidak bisa menjanjian untuk bersedia berdiam diri di rumah. Sejak kecil, aku adalah anak yang aktif bergerak kesana-kemari. Aku akan merasa otot dan otakku akan mati kalau kamu memintaku untuk terus berada di rumah. Aku ingin menggapai mimpi-mimpi kecilku satu persatu, dan menjadi istri sekaligus ibu rumah tangga bukanlah impianku satu-satunya. Percayalah, aku akan rela berkorban memutar otak dan menguras energi untuk membagi waktu dan perhatianku untukmu, dan anak-anak. Kamu boleh mencabut hak ku mencapai mimpi kalau ternyata aku lalai membagi waktu dan perhatianku, aku akan dengan rela melepaskan kebebasanku.

Aku adalah orang yang cengeng dan pemarah. Tempramenku sering meledak-ledak, namun dapat dengan mudah mereda ke titik terendah. Tolong, jangan bentak aku. Aku mudah kaget dan merasa kesal. Biasanya, kalau sudah terlalu kesal, aku akan langsung menangis. Sejujurnya, aku akan lemah dengan tatapan lembutmu, atau ciuman manismu, atau pelukan hangatmu. Otakku yang lumayan cerdas ini bisa dengan mudah kehilangan rasionalitasnya ketika berhadapan dengan kasih sayangmu. Hehehe

Kelak, kalau kamu membaca tulisan ini, mungkin kamu akan tertawa atau terharu atau geli karena ternyata istrimu yang galak bisa menjadi melankolis dan (gagal) romantis. Mungkin, saat itu, kamu akan meledekku habis-habisan sampai mukaku memerah karena malu, dan berakhir dengan aku yang memelototimu karena kesal.

Atau mungkin, saat itu kamu akan diam-diam tertawa dan menceritakannya ke anak-anak kita. Mungkin mereka yang akan menggodaku “Cieee cieee, Mamaaa. Cieeee”

Kalau kamu adalah tipe orang pendiam dan serius, kamu akan berpikir “Astaga, aku nggak nyangka dulu istriku sebegini alaynya” sambil geleng-geleng kepala.

Apapun itu, seperti yang aku bilang diawal, jika kamu memilihku, aku adalah perempuan paling beruntung di dunia. Aku tidak akan melepaskan keberuntunganku, aku akan mencintaimu dengan setengah hati. Karena setengah dari bagian hatiku akan kuberikan untuk anak-anak kita.
Mungkin aku bukan perempuan terbaik di dunia, tapi kita akan berpetualang bersama. Aku tidak akan menjanjikan perjalanan yang selalu romantis. Mungkin kita akan sering bercekcok, kemudian berbaikan, kemudian ledek-ledekan, dan akhirnya manja-manjaan seharian. Apapun itu, kita akan melaluinya bersama-sama. Saat ini, aku sedang mempersiapkan perbekalan yang cukup untuk berpetualang bersamamu, dan aku yakin kamu pun begitu. Aku akan berusaha menjadi istri terbaik dan terseru untukmu, dan ku harap kamu pun demikian. Aku menanti petualangan kita kelak.

Tertanda,

Rekan petulangan akhirmu.

Wednesday, July 6, 2016

Koko Lovers: Meet Up

Selalu ada cerita dibalik pertemuan.

Semua berawal dari Facebook, 6 tahun lalu, hingga akhirnya gue bisa berteman akrab dengan Sofia Ramadhani dan Chelsy Nathasya Riwu. Well, semuanya emang unexpected, cuma dari sekedar add-add doang, dan akhirnya kita sering kirim wall, lalu berlanjut ke twitter, tukeran no hp, ID LINE dan tadaaaa! tanpa terasa 6 tahun berjalan begitu cepat.

Pertama kali gue bertatap muka secara langsung sama Chelsy Nathasya itu, ketika Pakde Togi meninggal. Chelsy yang dateng ke Rumah Duka Harapan Kita, tujuannya mau berbela sungkawa. Tapi pada akhirnya, kita bertukar banyak cerita. Waktu itu, Sofia nggak bisa dateng, soalnya doi masih kuliah di IPB, dan belum libur sama sekali.

Sampai akhirnya, beberapa minggu lalu kita mutusin untuk ketemuan. Gila, udah 6 tahun temenan masa nggak pernah ketemu sama sekali? Dan, 2 Juli 2016 merupakan hari yang ditunggu-tunggu. Gue, Chelsy, Soffia, dan adik gue, Novita ketemuan di cafe kecil di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat. Untuk nama cafenya, kalian bisa liat di instagram gue. Soalnya gue nggak mau dikira mempromosikan cafe orang.

Proses ketemuannya pun awalnya nggak gampang. Sofia dan Chelsy yang tadinya mau berangkat bareng dari UKI malah nggak ketemu satu sama lain, dan berakhir dengan berangkat sendiri-sendiri. Mana letak cafenya kecil gitu, kehimpit sama ruko yang lumayan besar dikanan dan kirinya.

Gue sama Novita yang udah nyampe duluan, padahal berangkatnya belakangan. Dan pas sampe disana, malah diliatin sama pramuniaganya seakan-akan kita berdua ngumpetin senjata api jenis C4 atau mungkin bawa-bawa spanduk "WE ARE SUPPORTING DONALD THRUMP". Intinya para pramuniaga disana ngeliatin gue sama Novita seakan-akan kita berniat jahat, mungkin dikira gak bakal bayar atau gimana, nggak paham deh -____-

Gue sampai bilang tuh ke mas-mas pramuniaganya, "Kita lagi nunggu orang. Kita bakal pesen nanti ya, kalau temen saya dateng" dan ditanggapi dengan dia yang malah ngasih buku menu dihadapan kita. What the heck, dude? Are you fucking deaf?

Well, kalau diinget-inget jadi sebel sendiri sama pelayanan di The Bailey's and Chloe itu. ((lah tadi katanya nggak mau sebut nama cafenya?!?))

Pokoknya, kita skip aja sebelnya gue dan teman-teman pas makan disana.

Intinya, kita ngobrol panjang lebar dari jam 15.30 sampai waktunya berbuka puasa. Nggak cuma ngobrol, kita juga foto-foto. Well, ini inisiatif gue, sih. Untuk documentary gitu pas meetup sama temen lama dari dunia maya (halah!)

Terus, sesudah makan, kita mutusin buat bayar bill. Iyalah! Mau diteriakin maling sama mas-mbaknya yang jutek? Dengan nominal yang pas banget, tanpa tip. Lagi-lagi ini inisiatif gue. Soalnya, menurut gue, tip cuma akan diberikan untuk pelayanan yang memuaskan dan ramah. Bukannya yang diliatin tiap saat, dan sampe sering banget mondar-mandir dideket kita seakan kita bakalan ngutilin vas bunga. (fyi, awalnya dilantai dua itu cuma ada kita, sampai akhirnya ada lagi pelanggan lain yang makan disitu)

Selesai bayar bill, kita mutusin buat jalan ke Taman Anggrek, dengan grabcar. Dan sampai disana gue baru sadar masker hitam kesayangan gue si Bubby, hilang, nggak ada ditas. Sedih @@

Kata orang, every new people you meet on your life can teach you something new. Hal ini juga berlaku buat Soffia. Gue yang biasanya kalo selfie selalu duduk, dan kalaupun mau foto seluruh tubuh, bakal minta orang buat fotoin, kali ini ngelakuin hal yang nggak pernah gue lakuin sebelumnya. Kita nyari toko baju, dengan cermin dan pencahayaan yang terang, untuk sekedar bermirror selfie ria. Hmm...

Gue pernah sih foto ditoko pakaian, tapi didalam fitting roomnya. Bukannya di depan cermin sebelah rak baju-baju, dan banyak banget orang yang ngeliatin. Gokil juga @@ sekarang gue tau kenapa kami bisa cocok satu sama lain. Gue si rempong yang berisik, Soffia si setengah cowok yang nggak tau malu, Chelsy si ibu-ibu cerewet yang katanya pemalu tapi sama aja begonya kalo lagi sama kita. Dan satu lagi kesamaan kita. Kita punya kecenderungan tertarik sama pria chinese yang ganteng, berkulit putih, tinggi, dan punya alis kayak lintah. Yaaaaa... we are the koko-koko lovers. Tepuk tangan, guys!

Jadi intinya, gue percaya selalu ada cerita dibalik setiap pertemuan. Dan, everything happens for some reasons. Ada alasan kenapa gue dulu bisa ngeadd Sofia dan Chelsy. Mungkin, Tuhan tau kalau kita bakalan cocok baik di dunia maya ataupun dunia nyata.

Anyway, setelah dipikir-pikir our story is such a prove how facebook works to connecting people to communicate all over the world ya?

HEHEHEHE....

P.S: selamat ya buat Sofia yang baru jadian sama si semut. Longlast, Sop! Besok-besok traktir kita Indo*mie pake telor. Gue sukanya yang rebus, terus pake cabe rawitnya 3.

Wednesday, June 22, 2016

Thanks God for Your unexpected gift.

Well, harusnya post ini gue tulis kemarin, cuma gue lupa AHAHA saking bahagianya gue sampe lupa buat curhat disini.

Jadi, gini, kemarin nilai gue baru aja keluar. Dan nggak bisa gue sangka-sangka, gue dapet IP 4. Iya kalian nggak salah liat dan gue nggak salah typing angka. Emang beneran 4. EMPAAAAT. AHAHAHA anjrit gue bahagia banget, dan bener-bener nggak nyangka.

Honest to God, UAS gue kemarin itu susah banget. Kayaknya nyaris nggak ada yg gampang kecuali Pengantar Teknologi Informasi. Basic English 2 lumayan sih, cuma karena gue suka bego pas lagi ngerjain soal, gue kemarin dapet nilai nggak tinggi-tinggi juga.
Intinya UAS kemarin itu bener-bener buat gue muter otak, dari reading, comprehensive, sampai listening. Mana soal listeningnya susah banget. Ini nggak bohong, pas ujian listening tuh gue berasa lagi denger Outsider ngerapp. Cepet banget, dan nggak ada satupun kata yg bisa gue tangkep.

Parahnya lagi, ujian writing, kita cuma buat karangan gitu doang. Tapi, pas nilai keluar, rata-rata temen-temen gue cuma dapet 60an. Gila! Gue bener-bener nggak paham standar dosen lokal. Karena seriusan deh, dosen lokal di jurusan gue itu pelit banget nilainya. Dosen dari China yang ngajarin gue 2 semester kemarin malah cenderung baik dan pengertian banget kasih nilai. Terus ya rata-rata sering ngesupport kita, nyemangatin kita buat terus-terusan belajar.

Pokoknya, gue beneran nggak nyangka sebenernya bisa dapet IP setinggi itu. Karena awalnya, gue sampai mikir "Ah, gue berharap gue bisa pertahanin IP 3.8 deh. Semoga aja. Semoga..." saking hopelessnya tau nggak.
Dan, pas ngecheck nilai itu tadinya gue sempet takut. Sempet ragu antara mau buka portal mahasiswa atau nggak. Karena gue nggak percaya diri, yang terus muncul di pikiran gue tuh "Aduh, kalau ada yang nggak lulus gimana?" "kalau nilai gue jelek gimana?" "Aih, mau ngomong apa gue ke nyokap?"

But, puji Tuhan, nilai gue bahkan lebih baik daripada yang gue harapkan. I really really really thank to God because of this. Karena rasanya kayak mukjizat. Bener-bener unbelieveable, dan gue tau, gue bisa dapet nilai sebagus ini, semua karena penyertaan Tuhan Yesus juga. Terimakasih Tuhan! Yeay.

Anyway, perjalanan gue masih panjang. 15 Agustus nanti, gue bakal mulai semester baru. Kehidupan gue sebagai mahasiswa semester 5 akan dimulai. Dan, dari hati gue yang paling dalam, gue berharap gue bisa mempertahankan prestasi gue. Keep going to be at the top. Yeheeet~

Wednesday, April 27, 2016

Anak Cerdas, ikut Emak atau Bapak?

"Buat apa sih cewek sekolah tinggi-tinggi sampai S2 segala, toh kalau udah nikah nantinya juga bakal ngurusin suami dan ngedidik anak dirumah"

--
 
Sebagian dari kaum perempuan, yang baca statemen ini pasti bakal kesel, termasuk gue. Well, gue baru aja iseng buka facebook, karena nggak ada kerjaan jadi iseng-iseng aja mau liat isi facebook gue yang sekarang kayak apa. Dan nggak sengaja, ngeliat seseorang ngepost status begitu di akun facebook pribadinya. Gue nggak kenal sih siapa, nggak gue screenshot juga. Males kalo nantinya jadi masalah. Toh, gue cuma mau curhat aja disini kan?

Jadi, ya gue kesel aja ngeliat status si Mr. X ini, biarpun itu akun pribadi dan isinya sebenernya suka-suka dia mau ngepost apaan. Tapi, wajar dong kalo gue ngerasa direndahin banget. Correct me if i'm wrong, tapi kesan yang gue dapet dari kalimatnya adalah "Perempuan itu ya kodratnya dirumah ajalah, nggak usah pinter-pinter amat".

Geez, ini udah abad 21, udah lewat 112 tahun sejak Ibu Kita Kartini wafat, dan masih ada aja gue nemuin orang ngeluarin komentar kayak gitu. Mungkin, inilah yang dinamakan kemunduran akal sehat.

Man, bukannya mau menyombongkan diri karena gue udah mengenyam pendidikan di Perguruan Tinggi hingga saat ini, tapi menurut gue, ini menurut gue lho, ya. In my opinion, anak yang di didik oleh Ibu lulusan SD akan berbeda hasilnya dengan anak yang di didik oleh Ibu lulusan S2.

Sekarang gini, coba posisikan diri lo sebagai seorang ayah dan suami, lo punya istri yang cuma lulusan SD, apa yang bisa lo harapkan dari dia untuk ngedidik anak lo? Jangankan ngedidik anak tentang tontonan berkualitas, mungkin ngajarin matematika dasar aja nggak paham. Sementara lingkungan pergaulan anak lo belom tentu semuanya baik. Endingnya? Yang ada istri lo bakal dibego-begoin sama anak lo, dan anak lo bakal tumbuh jadi calon koruptor.

Ini kisah nyata, guys. Gue ngeliat kondisi ini dari lingkungan sekitar rumah gue. Anak-anak kecil jaman sekarang banyak banget yang udah nipu orang tuanya. Ketika dimarahin, lebih galak anaknya daripada emaknya.

"Lin, belajaaaar"
"Udah kok, Ma"
"Emang nggak ada PR?"
"Ada sih, tentang perkalian. Tapi aku nggak ngerti. Mama bisa bantuin?"
"Duh, mama nggak paham"
"Nah yaudah, besok aja lah gampang aku nyalin temen"

....Itu contoh dialog tetangga gue dengan anaknya. Ibunya nggak bisa ngajarin anaknya matematika. Endingnya? Nyalahin anak atau mungkin Gurunya "Kamu emang ngapain aja disekolah? Guru kamu nggak nerangin?"

Gue sempet diminta ngajarin anak tetangga gue ketika dia ada PR Matematika. Sekali-dua kali sih masih nggak apa-apa, tapi yang namanya manusia nggak akan pernah puas. Lama-lama keterusan, guenya jadi keganggu. Ketika lagi mau ngerjain tugas, ada yang ngetok-ngetok minta bantuan. Padahal lo tau sendiri tugas kuliah itu kampretnya kayak apaan. Makanya, gue berusaha jadi ibu cerdas, biar gue nggak perlu nyalah-nyalahin guru dan ngerepotin anak orang.

Coba dibayangin, kalau kondisinya adalah istri lo lulusan S2. Seenggak-enggaknya, istri lo masih bisa bimbing anak lo belajar sampai lulus SD. Masih mau komen mengenai pentingnya pendidikan Ibu dalam mendidik anak?

Kedua, masalah moral. Menurut gue, salah satu penyebab anak-anak Indonesia jaman sekarang makin rusak moralnya adalah karena faktor bimbingan orang tua. Keluarga merupakan pilar yang pertama dan utama dalam perkembangan anak.

Gue suka miris ngeliat berita anak SD udah grepe-grepe temennya. atau anak-anak TK yang teriak-teriak "anjing lo" di gang rumah gue. Man, mereka masih TK aja udah pinter maki-maki orang. Nggak ngerti lagi deh gimana kalo mereka udah umur 25, mungkin mereka jago banget ngebunuh karakter orang lain.
Parahnya, ketika gue omelin, Ibunya malah ngomelin gue balik. Hm, okay- gue bisa paham kalau Ibu ini sangat mencintai anaknya.

Belom lagi, anak-anak SD tetangga gue yang jago banget meranin adegan kisah cintanya Sissy-Digo. Itu loh pasangan fenomenal di Sinetron Super panjang "Ganteng-ganteng Anjing Hutan".

Gue baru pulang ngampus, langsung mangap-mangap kayak ikan kekurangan air ketika ngeliat dua anak bocah berbeda jenis kelamin, manggil-manggil Sissy dan Digo (padahal itu bukan nama mereka), terus pegang-pegangan tangan, dan temen-temennya malah pada "cieeeee... cieeee...." 

Dan parahnya emak mereka disana, iya, man! Nyokapnya disana, malah ngegossip satu sama lain tentang tontonan yang sama. HUANJER! gue speechless. Nggak paham lagi mau komentar apaan.

Belom lagi baru-baru ini, ada kasus artis yang kena jerat hukum karena ngejadiin Dasar Negara sebagai lawakan. Alasannya dia adalah dia nggak paham karena cuma lulusan SD
Ya, dari kasus ini, gue sih berdoa semoga jangan karena Ibunya cuma lulusan SD, anak nya nggak hapal sila keempat Pancasila. Hancurlah sifat dan sikap nasionalisme.

Lagian, man, para ahli pun membuktikan kecerdasan anak itu menurun dari kecerdasan Ibunya. Perlu nggak gue cantumin linknya disini? Tapi, gue saranin sih mending kalian cari aja artikelnya di Google. Banyak banget soalnya, bro.

Jadi, just note it. "Ibu yang cerdas berpotensi melahirkan keturunan yang cerdas."

Nggak peduli seberapa tinggi IQ bapaknya, tetep aja kan, yang ngandung itu emaknya? So, carilah perempuan cerdas untuk dijadikan istri. Kayak, gue contohnya.
*digampar*
((Ternyata post ini hanya kedok buat ajang promosi diri sendiri))