Tuesday, May 20, 2014

Hari Pengumuman



Hari ini adalah hari pengumuman kelulusan untuk seluruh siswa-siswi SMA/sederajat di Indonesia. Hari dimana kita akan tersenyum dan menghela nafas lega. Atau malah menangis dan merasa sesak. Hari terakhir dimana kita berpredikat sebagai siswa-siswi Sekolah Menengah Atas.

Kalau kalian nanya gimana perasaan gue hari ini. Jujur, gue biasa aja. Gue yakin gue bakal lulus.  Tapi, mungkin NEM gue nggak tinggi dan melenceng amat jauh dari target awal yang gue tetapkan.
Oke, mungkin gue sedikit deg-degan ketika mengira-ngira jumlah NEM gue dan memikirkan temen-temen gue. Gue nggak akan mungkin bisa bahagia kalau ada diantara temen-temen gue yang nggak lulus.

Pukul 01.00 PM, kelulusan katanya ditunda. Pemberitahuannya ditunda setelah seminggu sebelumnya guru-guru ngasih tau kalau pengumuman bakal di kasih tau pukul 08.00 AM. Kata Bu Catherine sih, informasinya telat dari Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang. Gue sih udah nggak heran. Tipikal rakyat Indonesia. Nggak tepat waktu.

Setelah ngedengerin presentasi tentang APMM yang (maaf) nggak ditanggepin sama temen-temen gue, kita baru dikasih amplop yang berisi surat keterangan lulus.
Anjir. Kok mendadak gue jadi grogi? Apalagi pas Suster Kepsek bilang kalau ada 10 anak yang nggak lulus. Terus dengan sadisnya, Bu Rus ngomong “Vira juga. Ini bukan usaha terbaik kamu, nih!”

Suasana mendadak horror buat gue. Kalau di cerita-cerita komik, bakal ada background angin berhembus dan dedaunan yang berterbangan tertiup angin. Dilengkapi dengan gambar muka gue yang pucat dan keliatan nggak bernyawa. Jengjengjeng…. *pasang musik horror*
Kaki gue mendadak lemas, pas denger nama gue disebut. Gue yakin sih gue bakal lulus tapi kalo sampe Bu Rus ngomong gitu, emang nilai matematika gue seancur apa?!?

Err, gue mulai lupa mau ngebahas apa. Oke, back to topic deh…

Kami sempet diajak doa bersama dulu. Harapannya, semoga kami diberi kekuatan lebih sama Tuhan. Padahal, rasanya itu amplop tak berdosa pengen buru-buru gue sobek biar nggak penasaran.

Setelah doa, kami baru dapet instruksi buat buka amplop. Dan, hasilnya GUE LULUS! HAHAHAHA Yes! Yes! Yehet! Ohorat! Hooraaaa~
Gue nggak teriak-teriak alay kayak anak-anak lain. Gue cuma bisa nangis sesegukan sambil megang Rosario. Gini-gini, gue jaga image. Soalnya kata Agnes Monica di Iklan Cle*r kan, ‘Kamu tak tahu kapan dunia akan memperhatikanmu’. Jadi gue harus tetep tampil cantik dan elegant kapanpun dan dimanapun. Siapa tau, saat itu dikelas gue ada kamera tersembunyi yang dipasang sama SM Entertainment buat nyari artis muda berbakat? HUAHAHAHA *ketawa nista*

Tunggu….kenapa kita jadi ngomongin iklan shampoo dan management artis Korea segala? Kenapa topik kita jadi melenceng? Kenapa gue jadi nggak fokus? Kenapa gue harus lucu dan manis dan mungil dan……STOP! Gue jadi malu sendiri muji-muji diri gue HAHAHA

Udah ah, kita kembali ke topik awal…

Saat mayoritas dari kami sedang berteriak kegirangan, gue nggak sengaja menoleh ke kanan. Gue liat kok Endah sama Jemmy oppa nggak keliatan bahagia? Pas gue liat amplop mereka, kok nggak ada keterangan. Nggak ada coretan?
Gue bingung. Gue buru-buru nanya suster maksudnya apa. Siapa tau salah atau lupa nyoret?

Suster nyuruh kita duduk lagi. Terus dia bilang “anak-anak yang mendapat surat tanpa ada coretan itu artinya mereka nggak lulus. Artinya Senin besok, kalian ikut ujian Paket C”

HAH?!?

Maksudnya ceceh Endah, Jemmy oppa, sama Paula nggak lulus? Gue yang tadinya bahagia langsung buru-buru meluk mereka. Mana setelah itu suster terus-terusan bilang “Kan suster udah bilang, kalian belajar yang rajin. Jangan ke sekolah cuma main-main. Lihat hasilnya, kan?”. “Untuk yang 10 orang itu, udah, kalian tidak perlu sedih-sedih. Kalian masih bisa ikut paket C. Bapak/Ibu Guru disini tidak mungkin lepas tangan begitu aja, heh” (Suster Kepsek gue, Suster Apolonia itu orang Ambon)

Gue speechless disitu. Apalagi, pas Suster Apolonia ngelanjutin “Tenang aja, APMM nerima Ijazah Paket C kok. Atau Endah, lebih baik jadi suster aja. Jadi suster tidak perlu ijazah”
Geez! Harus ya masalah ini terus-terusan dibahas? Gue nggak suka dengernya. Serius. Mereka lagi down banget, dan malah dipojokkin kayak gitu. Rasanya menyakitkan, lho!

Lima menit kemudian, Pak Aga nyuruh kita tenang, karena suasana nya mulai ribut dan nggak kondusif lagi. Banyak yang mulai nangis. Setelah keadaan tenang, Suster bilang “Jadi, kalau begini, Suster nyatakan siswa/i SMA Maria Mediatrix lulus 100%”

…100%? Terus yang tadi?

Seakan tau pikiran gue, Suster lanjut ngomong “Untuk yang 10 orang itu, yang tadi cuma bercanda”.
WHAT THE…..HEHEHEHE nggak apa-apa deh. Yang penting cuma bercanda xD
Artinya, semua temen-temen gue lulus! Yeay yeay yeay!

Setelah peluk-pelukan dan salam-salaman sama para guru, kami mulai foto-foto bareng. Di depan Goa Maria. Di lorong kelas. Di lapangan. Agak alay sih. Tapi, nggak apa-apa lah. Demi teman-teman SMA tercinta *halah*

Endingnya, gue sama Megaloman makan bareng. Mungkin buat yang terakhir kalinya soalnya banyak diantara kita yang bakal pergi jauh bahkan ke luar kota untuk melanjutkan kuliah. Well, seenggaknya hari ini jadi hari yang manis J

  (notes: gue nggak ngerayain kelulusan pake corat-coret baju dan konvoi-konvoi dijalan raya, kayak anak kampoeng. Gue adalah cewek keren dan elegant. Inget, Anastasia Virainia Sari merupakan keturunan bangsawan. Gue ini Putri Raja!)

Monday, April 21, 2014

paradigma UNAS



Sejak gue berusia 7 tahun, gue udah sadar kalau gue punya tingkat sarkasme diatas rata-rata teman gue yang lain. Sejak kelas 2 SD, guru gue selalu mengajarkan bahwa “Mencontek saat ulangan adalah perbuatan yang tercela”. Tapi, gue yang saat itu ndableg malah protes dan bilang gini ke wali kelas gue, Bu Tres “Orang kan nyontek karena ada alasannya. Mereka terpaksa”. Endingnya? Gue di ketawain sama temen-temen sekelas, dan gue di omelin guru.

Kalau gue pikir-pikir sekarang, gue rasanya ketawa sendiri mengingat betapa jeniusnya gue saat itu. Gue sendiri heran, kenapa gue tiba-tiba inget kejadian bersejarah itu. Mungkin ini bukan kebetulan. Barangkali ini bukan kebetulan otak gue memutar memori itu disaat gue mengingat tentang penyelenggaraan UNAS kemarin. Barangkali, gue harusnya mengadukan hal ini ke Bu Tres. Karena apa yang akan gue utarakan disini adalah realisasi dari ucapan nyeleneh gue saat itu.


Selama 3 hari kemarin, rasanya gue ditampar bolak-balik sama kenyataan penyelenggaran UNAS.
Selama ini, tiap kali UNAS digelar, seluruh elemen masyarakat tertarik ke dalam topik perbincangan ini. Perdebatan tentang perlu-tidaknya UNAS diselenggarakan nggak pernah absen dari obrolan ringan dan bahkan liputan berita di media massa. Jangan lupakan tentang kecurangan dan bocoran soal.

Dari tahun ke tahun, selalu ada laporan tentang kecurangan UNAS, bahkan bocoran soal dan kunci jawaban. Tapi, tragisnya pemerintah tetap pasang senyum dan berkomentar tentang “tahun ini persentase kelulusan siswa meningkat dari tahun sebelumnya”, “rata-rata nasional tahun ini mengalami kemajuan”, dan segala komat-kamit yang gue nggak pernah paham apa maksudnya.

Dari banyaknya jumlah angka-angka yang disebutkan oleh pemerintah tentang persentase kelulusan, rata-rata tahun ini, SKL yang sama, seharusnya pemerintah menyelipkan tentang “penyetaraan soal dan jumlah kasus kebocoran soal ujian”

Jujur, gue kecewa dengan dua hal ini.

MASALAH PERTAMA. PENYETARAAN DAN BOBOT SOAL
Tahun ini, angkatan 2013/2014 memiliki 4 paket soal dengan masing-masing 5 variasi soal di tiap paketnya. Yang artinya sih sama aja, nggak ada satu pun soal yang sama ditiap kelas. Atau mari katakanlah, sebenernya ini sama aja kami mendapatkan 20 paket.

Dan balik lagi tentang variasi soal. Gue masih bisa terima tentang variasi soal, tapi yang gue permasalahkan ini adalah penyetaraan tingkat kesulitan. Tebak kenapa gue marah. HAHAHA bener banget! Karena tahun ini, tingkat kesulitan soal tidaklah setara. Guru gue sendiri yang bilang begitu. Ini jelas nggak adil.
Sebab, temen gue yang lemah dalam pelajaran Biologi nyaris menangis karena mendapat soal yang bahkan lebih susah daripada teman sekelas gue yang jenius dalam pelajaran Biologi. Di hari pertama, dia memeluk gue dan berbisik “gue lulus nggak ya, Vir? Gue nggak sanggup ngecewain Nyokap gue” Oh Tuhan, hati gue trenyuh ngedengernya.
Gue nggak pernah khawatir akan lulus-nggaknya gue, karena orang tua gue selalu menegaskan kalau “Sekolah itu tempat membentuk karakter bukan cuma mendapatkan nilai”.
Tapi, bagi sebagian orang tingkat kepintaran seseorang diukur berdasar angka. Dan itulah yang membebani temen gue dan keluarganya. Temen gue takut dicap bodoh dan keluarganya dikucilkan hanya karena dia mendapat NEM yang rendah. Bagi sebagian penduduk Indonesia, makin tinggi nilai yang tertera di Ijazahmu, makin tinggi derajatmu di antara masyarakat.

Mungkin Menteri Pendidikan dan tim pembuat soal akan berdalih begini “soalnya kan dibuat dari materi SMA. Kalau siswanya belajar, soal sesulit apapun nggak akan masalah”
Gue rasanya mau ketawa kenceng-kenceng, katanya Ujian Nasional diadakan sebagai patokan untuk mengevaluasi tingkat pendidikan siswa Indonesia. Ini yang mau di evaluasi apanya? Hoki-hokian siswa mana yang dapet paket soal termudah?
Lalu, tentang bobot soal yang katanya mirip dengan soal UNAS tahun lalu dan bobot kesulitannya dinaikkan sedikit. Dengan rendah hati dan tanpa bermaksud sok suci, gue mengatakan bahwa soal UNAS tahun ini amat sangat berbeda dengan tahun lalu.
Sekolah gue mengumpulkan soal UNAS dari 5tahun terakhir. Dan, guru-guru di sekolah gue sendiri menyimpulkan bahwa soal ini jauh lebih sulit dan amat sangat berbeda dari soal tahun lalu.
Diperparah dengan berita bahwa UNAS 2014 bertaraf Internasional. Halelluyah! Semoga Yesus melindungi kalian dari segala kutukan sumpah serapah para siswa, wahai Menteri Pendidikan dan tim penyusun soal. Kalian memang jenius, mengemukakan fakta ini setelah UNAS selesai agar tidak terjadi huru-hara sebelum UNAS di adakan. Agar para murid hanya bisa berharap mendapatkan yang terbaik sambil menahan marah. Jenius!

Sejujurnya, gue marah akan hal ini. Lucu nggak sih kami dijejali soal bertaraf Internasional ketika bahkan gue dan temen-temen sekolah gue aja bahkan masih keok menghadapi soal bertaraf nasional? Lucu nggak sih kami dijejali soal bertaraf Internasional ketika bahkan kualitas tiap sekolah di Indonesia aja nggak sama. Jangankan punya gambaran tentang soal berstandar Internasional, punya sarana prasarana yang memadai aja harus melalui proses yang susah payah.

MASALAH KEDUA. JOKI, BOCORAN SOAL DAN KUNCI JAWABAN

Tiap tahun, pemerintah selalu meningkatkan kesulitan soal dengan sedemikian rupa agar tidak terjadi ‘kecurangan’. Tapi, nyatanya, ketika hari pelaksanaan ujian nasional, selalu ada oknum yang menawarkan bocoran soal dan kunci jawabannya. Okelah, kalau soal yang bocor cuma 50%. Tapi, tiap tahun selalu ada joki yang bocorannya mencapai 90%.

Saat gue SD, tipe UNAS (yang dulunya disebut UASBN) Cuma ada 1. Lalu, saat SMP, berkembang menjadi 5. Sekarang, saat SMA, tipe UNAS malah beranak-pinak-cucu hingga menjadi 20. Agaknya, pemerintah beranggapan kalau menambah paket soal akan membuat jawaban joki meleset dan UNAS berjalan mulus seperti kulit tanpa bulu karena telah menggunakan Ve*t, bersih seperti pakaian yang dicuci dengan Rin*o cair, atau murni seperti air yang telah diuji dilaboratorium I*B dan I*B #plak #mintadigampar HAHAHA

Nyatanya, peningkatan jumlah paket jumlah paket hanya membuat tarif para joki meningkat. Bahkan, teman gue dari SMAN 02, SMAN 03, dan SMAN 06 (nama daerah dirahasiakan) bercerita kalau mereka mendapatkan kunci bocoran untuk tiap soal disertai dengan kalimat pertama dari no-no tertentu yang sejajar dengan kode paket. Sehingga para siswa bisa mencocokkan yang mana soal yang sedang mereka kerjakan.
Lah, kok bisa? Biarlah joki tersebut, keluarganya yang metal-metal, serta Tuhan yang tahu.

Hanya dua hal di atas yang membebani pikiran gue hingga saat ini. Kadang gue mikir, sebenernya sistem pendidikan seperti apa yang sedang diupayakan oleh pemerintah? Sistem pendidikan dimana guru-guru dan para pendidik merasa cemas dan terbebani dengan ‘persentase kelulusan sekolah’? Seakan-akan kalau nggak mencapai akan 100%, maka sekolah tersebut dianggap jelek dan dijudge nggak mampu menghasilkan bibit-bibit yang cerdas dan berbobot?
Kalau begitu, kualitas pendidikan kita dinilai berdasarkan persentase banyaknya siswa yang lulus? Bukan seberapa bermoralkah para generasi muda? Duh Gusti, pantes konflik Negara ini selalu berkutat sama bobroknya moral dan pola pikir masyarakat. Betapa berbanding terbaliknya karakter mereka dengan title dan nilai Ijazah mereka yang gemilang.

Sekolah gue, SMA Maria Mediatrix merupakan sekolah swasta Katholik. Bahkan Kepala Sekolah kami merupakan seorang Biarawati. Dan karena itu, kepala sekolah gue menutup akses yang memungkinkan terjadinya bocoran soal.
Semua siswa disekolah gue mengerjakan UNAS dengan jujur (meskipun ada yang serius dan ada yang nggak peduli mau lulus atau nggak). Semua temen-temen gue belajar mati-matian. Fokus pada materi yang diajarkan guru, les sana-sini, mengumpulkan soal dari berbagai sumber, dan berdoa dengan taat. Tapi, ketika ngeliat soal yang nggak berkeperisiswaan, tekad mereka mulai goyah. Di hari pertama, mereka lemas setelah mengerjakan Biologi. Esoknya, wajah mereka pucat setelah mereka mengerjakan Matematika. Bahkan, teman baik gue muntah-muntah setelah mengerjakan Kimia. Beruntung nggak ada yang jatuh pingsan.

Dan yang mengejutkan, baru-baru ini, ada berita yang mengatakan bahwa “Pelajar SMA Mengatakan bahwa Ujian Nasional Menyenangkan” dan gue jadi heran. Kakak gue bahkan berkomentar sinis, “Dia lagi ngerjain soal apa clubbing? Mungkin dia ngerjain soal sambil nonton bokep kartun kali”
Gue sih bingung, apa sisi menyenangkannya. Mungkin dia yang terlalu jenius sehingga UNAS nggak lebih dari permainan [LINE Pokopang]. Atau mungkin dia dapet bocoran soal? Siapa tau dia pergi bertapa di Gunung Cirebon? Entahlah. Hanya dia, keluarganya, dan Tuhan yang tau.

Oh, dan ngomong-ngomong! Bapak Menteri Pendidikan yang terhormat, saya lupa nama Bapak siapa, tapi maukah Bapak sekali-kali langsung survey ke sekolah di daerah kami ketika hari pertama pelaksanaan UNAS diselenggarakan? Siapa tau Bapak secara tidak sengaja menemukan sendiri titik-titik dimana joki memperjualbelikan bocoran soal? Kalau Bapak mau, saya bahkan bersedia jadi tour-guidenya. Terima kasih.

Monday, March 31, 2014

Pernah mendengar ungkapan tentang perhiasan?

Cincin melambangkan ikatan yang menuntut, seperti pertunangan dan pernikahan. Karena, syaraf pada jari manis terletak sejalur dengan hati. Jadi, cincin merupakan simbol bahwa hatimu terikat padaku. Dan hanya padaku.

Kalung melambangkan cinta yang mengikat, saling membutuhkan, dan mengontrol. Karena letaknya dengan jantung dan paru-paru, ini melambangkan aku akan kesulitan bernapas dan jantungku akan kesulitan berdetak bahkan mungkin aku akan mati ketika kamu tidak ada di dekatku.

Gelang melambangkan cinta yang selalu bersama. Layaknya borgol. Aku akan pergi kemanapun kamu melangkah. Dan jika kita terpisah, maka kita akan baik-baik saja. Aku akan tetap melanjutkan jalanku, dan kamu pun begitu. Hanya saja bagiku, rasanya berbeda dan pasti tidak akan sama lagi kalau kamu tidak disini.

Seperti itulah cintaku. Jika kita berpisah, aku harap kamu akan baik-baik saja. Dan aku pun berjanji aku akan baik-baik saja. Mungkin kita akan melangkah ke jalan yang berbeda, tapi kamu tidak akan pernah terlupa.




with love,
Anastasia Virainia Sari.

Sunday, January 12, 2014

11 Januari - Christmas


11 Januari 2014.

Yes! Acara Natal di sekolah gue udah berakhir. HAHAHAHA AKHIRNYAAAAA….acara yang gue bilang kepepet waktu dan terlalu beresiko tinggi gara-gara di kerjakan tanpa adanya persiapan yang matang ini kelar juga. Acaranya biasa-biasa aja. Nggak heboh juga. Malah cenderung nggak jelas *jder*. Tapi yang jelas, dance gue berjalan lumayan lancar. Hihihi :3
Meskipun badan gue rasanya pengen banget gue pretelin dan punggung gue sakit semua, tapi gue puas. Seenggaknya gue nggak malu-maluin banget pas perform :p

Eh, ngomong-ngomong, gue udah putus sama Jimmy. Barusan aja. Sekitar jam 4 sore, depan rumah gue, setelah dia nganterin gue pulang dengan selamat.

Mungkin, di antara kalian banyak yang mikir “kok bisa-bisanya gue biasa aja pas putus?” Bukan, bukan. Gue bukannya nggak sayang sama Jimmy. Gue sayang kok sama dia. Banget malah. Tapi gue sadar, gue emang nggak cocok pacaran sama dia.
Dan gue, ngerasa gue udah terlampau dewasa untuk nangis-nangis karena masalah cowok. Nggak. Gue nggak mau kayak gitu. Gue kenal sama Jimmy secara baik-baik, gue temenan sama Jimmy secara baik-baik, gue pacaran sama Jimmy secara baik-baik, dan gue putus sama Jimmy juga harus secara baik-baik. Nggak ada acara berantem-berantem. Nggak ada adegan teriak-teriakan. Nggak pakai acara nangis-nangisan.

Gue bukan lagi Vira yang dulu. Gue bukan lagi cewek yang bakal ngebenci mantan pacar setelah kita putus. No, No, No. Orang yang udah dewasa secara psikis nggak bakal mungkin ngebenci orang cuma karena mereka udah nggak pacaran.

Ada yang bilang “being friends with your ex shows you two are mature enough to over the fact that you weren’t meant to be together”
Dan gue setuju. Seandainya kita (pernah) temenan dan akrab sebelum bisa jadi pacar, kenapa kita nggak coba untuk temenan dan akrab lagi setelah kita nggak jadi pacar?

Ngomong-ngomong, gue lagi suka banget sama lagu EXO – Christmas Day. Gue udah ngedengerin lagu itu sebanyak 17 kali hari ini. Tapi entah kenapa, gue masih aja nggak bosen denger lagunya.
Mungkin…. Karena lirik lagu ini ngingetin gue sama seseorang. Seseorang yang ibaratkan hari Natal untuk gue. Seseorang yang berhasil menjadikan hari-hari gue terasa spesial saat gue ada di sisinya. Seseorang yang berhasil membuat gue merasakan letupan-letupan kecil di jantung gue saat dia memerangkap gue dalam tatapan matanya. Seseorang yang berhasil menciptakan getaran di jantung gue saat dia menggenggam tangan gue dengan tangannya. Seseorang yang membuat gue merasakan adanya salju dan kembang api secara bersamaan di perut gue saat dia manggil gue dengan panggilan sayangnya.
Seseorang yang kalian nggak tau siapa kkk :p

Oke, sekian itu aja. Gue capek banget untuk sekedar ngejayus, dan rasanya kasur udah menghasut gue untuk menidurinya (?!?)

Monday, January 6, 2014

6 Januari 2014



6 Januari 2014

Pertama-tama, gue mau ngucapin Happy New Year 2014!~
Sorry gue baru bisa on setelah pergantian tahun AHAHA soalnya liburan ini gue sibuk bener-bener sibuk. Dari tanggal 24-28 gue selalu pergi dan pulang dengan badan nyaris rontok. Tanggal 1-3 juga. Rasanya gue liburan ini nggak bisa refreshing. Resolusi 2014 gue pun udah dihancurkan sejak awal.

Bayangin aja, gue -saking frustasinya mau buat resolusi apa- berharap bisa punya kulit lebih putih dan menyamarkan kantung mata gue yang kelewat bengkak ini. Tapi apa? Apa?! APAAAA?!?
Kenyataannya berbanding terbalik, saudara-saudara! Kulit gue makin dekil dan mata makin menghitam aja kayak panda illegal (?)

Ya emang sih, manusia itu cuma bisa berencana sedangkan Tuhan yang menentukan. Pasangan yang berhubungan badan pakai kondom aja bisa kebobolan juga. Gimana yang nggak?

Eh… kok gitu sih analoginya? Oke, otak gue mulai error kayaknya.

Jadi begini, gue mau cerita ke kalian. Hari ini hari pertama masuk sekolah, tapi ternyata selama seminggu ini, anak-anak SMA Maria Mediatrix nggak ada pelajaran karena waktunya di pakai untuk persiapan acara Natal sekolah. Untuk yang satu ini, gue nggak mau munafik, gue mau mengucapkan puji dan syukur pada Tuhan karena Dia telah mengabulkan doa gue supaya otak gue yang udah lewat batas garansi ini nggak makin korslet gara-gara harus belajar di hari pertama hehehe

Dan lu tau, gue berencana mau minta putus sama Jimmy. Eh bukan, maksudnya tuh, gue mau minta diputusin Jimmy. Eh…eh iya deh bener. Gue mau minta Jimmy mutusin gue.
Tapi, kayak yang tadi gue bilang manusia boleh berencana tapi Tuhan yang menentukan. Jangankan minta di putusin, ketemu dia aja seharian nggak -_- hfft

Mungkin di antara kalian banyak yang nanya “Kenapa harus minta di putusin sih? kenapa nggak lu aja yang mutusin dia?”
Sebenernya jawabannya simple dan nggak berbobot. Gue males. Seriusan, gue tuh paling males mutusin orang. Takutnya nanti gue yang nyesel. Lagian, kayaknya cewek minta putus udah biasa ah. Dan di sekolah gue belum ada tuh cewek minta di putusin (?). Jadi, gue kepikiran buat ngambil tindakan yang anti mainstream ini *gelo*

Eh ngomong-ngomong, saat tanggal 2 Januari pukul 01.27 WIB, ada seorang cowok yang nyanyiin lagu romantis buat gue AHAHAHA > w <
Bukan. Dia bukan Ryo kok. Tapi mungkin, dia emang pengen nyaingin Ryo di hati gue sih kkkk *pede*

Cowok ini namanya Freddy. Jangan tanya siapa nama panjangnya, soalnya dia udah ngelarang gue duluan buat nyebarin identitasnya dia. Jadi, ya cukup gue kasih tau segitu aja.

Freddy ini nyanyiin lagu yang nggak gue tau apa judulnya…. cuma lagunya itu bikin melting Mamaaaa ; A ;

Ditambah dengan suaranya yang emang bagus dan mendayu-dayu gimana gitu. Aduh aduh aduh, betapa beruntungnya gue >///<
Gue sampe nggak bisa tidur dengan nyenyak setelah acara ‘mari membuat jantung Vira berdetak 2x lebih cepat dengan suara merdu Freddy’ itu berakhir. Bahkan gue sampe nyari-nyari lagunya selama 4 hari ini. Dan perjuangan gue nggak sia-sia AHAHAHA

Akhirnya gue tau apa judul lagu yang dia nyanyiin. Tapi pas gue dengerin, lagu If You Leave - Musiq Soulchild featuring Marry J. Bligue ini sebenernya biasa aja. Nggak tau deh, kenapa pas Freddy yang nyanyiin lagu ini kesannya romantis dan sweet abis. Gue juga bingung sih. Entah karena emang suaranya Freddy yang lebih bagus atau karena lagu ini dinyanyiin khusus buat gue #eaa XD

Oh ya, kalian tau iklan sabun Lifebuoy? Yang ada adegan anak kecil selalu ngomong “aku bukan anak keciiiiiil” dengan nada cempreng? Gue lagi suka iklan itu lho. Nggak tau kenapa sih, tapi gue suka aja pas dia bilang “aku bukan anak kecil~! Aku bisa…. mandi sendiri”

Dan kenapa kita tiba-tiba ngebahas iklan? Ya nggak apa-apa sih, gue cuma pengen kasih tau kalian aja. Lagian gue bingung mau ngetik apa lagi. Jadi, anggep aja itu sekalian buat nambah-nambahin post gue. Lumayan kan? Sambil menyelam minum air HUAHEHEHE~


Yang jelas, gue suka dinyanyiin sama cowok ganteng. Tapi, ya lagunya yang romantis. Jangan lagu yang liriknya profanation semua kayak lagu-lagunya Eminem. Jangan lagu kematian juga -___- gue gamparin kalau ada yang berani nyanyiin lagu macem itu buat gue.


“you think I’m so full of it, full of it.
But I think I’m just fed up, Baby.
You think I can be so arrogant, arrogant.
But I’m just tryna keep my head up, Baby
You think I’m so prosrastinate Baby,
But I think I’m taking my time”

(Musiq Soulchild ft. Mary J. Bligue – If You Leave)